Konsep Musikalisasi Puisi yang Menghibur

Rabu, 31 Januari 2018 - 23:50 WIB
Diposting oleh: Administrator

Bermain musikalisasi puisi menjadi alternatif yang menyenangkan dalam pembelajaran apresiasi puisi. Dengan permainan ini, apresiasi puisi yang asalnya berasa kering dan menjemukan dapat berubah menjadi semacam orkestrasi yang enak didengar dan, tentu saja, enak ditonton. Memang benar, kegiatan apresiasi puisi yang biasanya berupa pembacaan puisi dan pemaknaan unsur intrinsiknya bisa menjadikan siswa kurang gairah dan menjemukan. Efeknya, siswa akan diam saja mendengarkan puisi, kemudian sambil menekuk kepalanya di atas meja karena ngantuk mungkin disebabkan pertunjukan yang kurang gairah. Apalagi, jika pembacaan puisi itu dilakukan secara individu: siswa maju ke depan kelas secara bergiliran, ini malah menjadikan suasana pembelajaran yang kurang menyenangkan.

Kondisi tersebut akan berbeda ketika apresiasi puisi dilakukan melalui kegiatan musikalisasi puisi. Dengan kegiatan ini, apresiasi puisi lebih menggairahkan sebab dilaksanakan secara berkelompok; diiringi orkestra musik; dan memiliki daya hibur yang menggairahkan siswa. Suasana kelas akan berbeda jika dibandingkan dengan situasi awal tadi. Konsep musikalisasi puisi adalah perpaduan pembacaan puisi, iringan musik, dan lagu. Hmmm, rasanya akan menjadikan suasana belajar yang semarak. Akan tetapi, untuk mewujudkan suasana yang semarak, rasanya tidak asal membaca puisi saja dengan musik yang asal-asalan (gedobrakan), tetapi perlu penataan yang pas dari ketiga unsur di atas.

Yang pertama, pembacaan puisi yang baik; yang bercita rasa benar-benar membaca puisi; bukan seperti membaca koran atau buku cerita. Pembaca puisi dipilih dari siswa yang memiliki kemampuan bacanya bagus. Kemampuan ini bisa dilihat dari teknik vokal, ekspresi, dan penghayatan terhadap puisi. Teknik vokal yang bagus biasanya ditandai suara yang jelas, keras, dan bertenaga. Siswa yang bersuara kecil rasanya belum pas di posisi ini. Ekspresi wajah perlu disesuaikan dengan tema puisi yang dibaca. Misalnya, puisi bertema perjuangan memerlukan ekspresi semangat berjuang, bukan ditampilkan dengan wajah yang datar (flat expression). Tetapi, perlu dicatat, pembaca harus hati-hati ketika membaca puisi bertema ibu, misalnya. Ia boleh berekspresi sedih/mengenang, tetapi jangan sampai menangis karena akan mengganggu kualitas vokalnya. Unsur berikutnya adalah penghayatan terhadap puisi yang dibaca. Penghayatan akan memunculkan intonasi, irama, jeda, gerak-gerik anggota tubuh, dan mimik. Dengan kata lain, penghayatan atas puisi yang dibaca akan menentukan penampilan di depan hadirin. Atas dasar itu, maka sesungguhnya pada waktu seseorang membaca puisi, akan bergerak atau tidak, ada besar atau kecil, semata-mata bergantung pada penafsiran terhadap puisi yang dibacanya.

Unsur kedua adalah iringan musik yang benar-benar bisa menghibur, bukan musik yang asal dipukul gedobrakan saja. Iringan musik yang dipakai dalam kegiatan ini biasanya alat musik perkusi sederhana. Misalnya saja, gitar, kentongan, gendang, tamborin, galon air, atau bisa saja alat musik kreativitas siswa. Alat-alat musik itu cara menggunakannya perlu memerhatikan irama yang menghibur; irama yang enak dan nyaman di dengar, bukan irama yang gedobrakan seperi orang marah. Bukan pula seperti irama musik teater yang bercita rasa menakutkan atau berirama seram (dum…, dum…, dum-dum, dum-dum-dum, dan seterusnya). Di sini perlu dibedakan bahwa musikalisasi berbeda dengan teater atau sendratari. Dalam musikalisasi puisi, irama musik harus menghibur; tidak perlu gerakan berlebih sebagaimana dalam pertunjukan sendratari atau teaterikal. Pembaca puisi cukup menambah dengan gerakan (kinesik) secukupnya.

Yang terakhir, iringan lagu yang merdu. Artinya lagu yang dinyanyikan harus merdu; enak didengar; bukan asal menyanyi yang cemperengan. Langkah pertama untuk mewujudkan ini, perlu dipilih siswa yang memiliki suara merdu atau punya kompetensi bernyanyi. Kedua, lagu yang dinyanyikan liriknya diambil dari puisi yang dibaca. Ini dilakukan supaya antara lagu dan puisi memiliki kepaduan. Siswa perlu berlatih mengkreasikan atau mengaransemen lagu dari puisi yang dibacakan. Posisi lagu dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap atau pemanis musikalisasi puisi. Sering dijumpai dalam kegiatan ini, lagu-lagu yang dibawakan hanya dianggap tambahan saja. Misalnya lagu nasional/daerah yang liriknya, tentu saja, tidak sama dengan puisi yang dibacakan.

Musikalisasi puisi rasanya sering dilombakan diberbagai pekan seni pelajar. Di Taman Hiburan Remaja (THR) Surabaya, misalnya, hampir setiap ada pekan seni sering melombakan musikalisasi puisi untuk siswa SD—SMA. Biasanya, ada 7 personil dalam setiap grup. Dari jumlah ini, peran siswa bisa dibagi: satu siswa sebagai pembaca puisi; tiga siswa menyanyi; empat siswa bermain musik. Ketiga peran ini perlu bermain dengan cantik dan memesona sehingga musikalisasi puisi yang dibawakan lebih nikmat ditonton dan memberikan kepuasan hiburan bagi masyarakat. Terakhir yang perlu juga, berkaitan dengan busana, rasanya siswa bisa saja menggunakan busana yang sederhana. Misalnya, jas almamater sekolah, kaus yang sopan, atau bisa saja memakai baju seragam sekolah. Rasanya siswa tidak perlu repot meminjam/menyewa baju-baju adat yang mahal ataupun baju semacam pertunjukan drama/teaterikal yang membuat repot dan lagi-lagi mengeluarkan banyak biaya.

Akhirnya, dalam kegiatan musikalisasi puisi ketiga aspek di atas: pembacaan puisi, irama music yang menghibur, dan penyanyi yang merdu menjadi kunci utama. Ketiga aspek ini perlu diperhatikan porsinya supaya tidak ada salah satu aspek yang mendominasi. Dengan memerhatikan ketiga kunci utama ini, diharapkan akan menghasilkan pertunjukan seni yang menghibur dan memuaskan penonton. Selamat mencoba! (Kontak person: 085732489033. Email : fananitop@yahoo.com)

Disadur dari https://suaraguru.wordpress.com/