Mengasah Delapan Kecerdasan

Kamis, 01 Februari 2018 - 00:10 WIB
Diposting oleh: Administrator

Dari pelaksanaan lomba mata pelajaran dan seni Islam (Mapsi), siswa dapat memetik banyak hal positif”

Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jateng membantu pembiayaan Lomba Mata Pelajaran dan Seni Islam (Mapsi) 2013. Sejak 2008 hingga sekarang pelaksanaan lomba itu sepenuhnya dibiayai secara swadaya oleh guru di Jateng (SM, 07/05/12).

Dinas Pendidikan Provinsi Jateng dan Pemprov Jateng seyogianya membantu pelaksanaan kegiatan itu tahun 2013 mengingat pengundangan PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan menghilangkan kendala bagi Kemendikbud, Dinas Pendidikan provinsi/ kabupaten/ kota, dan pemda untuk membantu.

Regulasi itu menegaskan pemda dan Kemendikbud diizinkan membantu pendidikan agama dan keagamaan. Pasal 12 Ayat (1) regulasi itu merinci pemberian bantuan sumber daya pendidikan itu meliputi pendidik, tenaga kependidikan, dana, serta sarana dan prasarana.

Peraturan itu juga mengait Kemendikbud dan pemda, yang realisasinya bisa membantu memperbaiki bangunan sekolah, menyediakan tenaga pendidik, menyelenggarakan pelatihan guru agama, termasuk membantu pelaksanaan lomba Mapsi. Terlebih, lomba itu punya peran strategis bagi kemajuan pendidikan, terutama memacu percepatan kualitas pendidikan agama.

Untuk bisa menjadi juara di semua cabang yang dilombakan di tingkat Provinsi Jateng, tiap siswa harus memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan spiritual yang lebih unggul dari siswa lain. Bukan hanya mengandalkan kecerdasan intelektual melainkan seluruh potensi kecerdasan.

Lebih dari itu, pelaksanaannya yang melombakan berbagai cabang, seperti qiro’ah, kaligrafi, pidato Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jawa, serta lomba cerdas cermat agama (CCA) dan seni Islam punya nilai edukatif, yaitu mengasah 8 jenis kecerdasan anak didik, yang biasa disebut multiple intelligence.

Pertama; kecerdasan linguistik, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan kata-kata, kedua; kecerdasan logika dan matematika, yaitu kemampuan menalar dan berhitung, ketiga; kecerdasan musikal, keempat; kecerdasan spasial dan visual, serta kelima; kecerdasan kinestik atau kecerdasan fisik.

Kemudian, keenam; kecerdasan interpersonal atau kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, ketujuh; kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan introspektif, yaitu kemampuan untuk memiliki wawasan dan mengetahui jati diri, serta kedelapan; kecerdasan naturalis, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan menyelaraskan diri dengan lingkungan.

Pengaruh Besar

Dari pelaksanaan lomba, siswa juga dapat memetik banyak hal positif. Pertama; siswa bisa belajar perihal sportivitas, yaitu menjadi yang terbaik dengan tetap menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai kejujuran. Mereka dapat belajar menyikapi kemenangan dengan penuh kearifan.

Sebaliknya, mereka dapat belajar menyikapi kekalahan dengan penuh kesabaran. Kalangan pendidik berharap nilai-nilai sportivitas itu bisa tertanam sejak dini dalam diri siswa, terutama peserta lomba Mapsi. Muaranya, mereka mempraktikkan sportivitas itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua; melalui lomba Mapsi itu, siswa bisa belajar perihal kedisiplinan. hal itu mengingat untuk menjadi juara semua cabang yang dilombakan siswa harus memiliki sikap disiplin tinggi. Baik itu disiplin waktu, belajar, latihan, dan disiplin menaati peraturan. Hanya mereka yang punyai disiplin tinggi yang bisa menjadi juara.

Ketiga; siswa dapat belajar perihal arti pentingnya sebuah persahabatan dan kebersamaan. Kualitas kebersamaan dan kekompakan tim memiliki pengaruh sangat besar dalam meraih kemenangan. Tim yang punya tingkat kekompakan dan soliditas terbaiklah yang bisa memenangi lomba itu. Belajar tentang kebersamaan, kekompakan dan soliditas, sangat penting, terutama untuk bekal menjalani kehidupan sehari-hari sebagai siswa. (Sumber: Suara Merdeka, 26 Mei 2012).

Disadur dari: https://suaraguru.wordpress.com